Jumat, 17 September 2010

Esai Transformasi Teks Cerita Rakyat “Timun Mas”

Timun Mas dalam Kejaran Zaman



oleh Fitri Nuur Alimah


Pernahkah sewaktu kecil Anda diceritakan cerita rakyat oleh orang tua Anda sebelum tidur? Cerita rakyat merupakan salah satu sastra lisan nusantara yang diwariskan turun temurun secara lisan (dari mulut ke mulut). Baru sebagian sastra lisan di Indonesia yang sudah dibukukan ataupun difilmkan. Salah satu cerita rakyat yang sudah dibukukan dan difilmkan adalah cerita rakyat Timun Mas, bahkan cerita Timun Mas ini sudah beredar di internet dalam berbagai bahasa.

Cerita Timun Mas termasuk jenis cerita nasihat, cerita timun Mas ini dapat di temukan didaerah nusantara dengan berbagai versi. Hal ini dikarenakan proses penciptaan cerita Timun Mas dalam sastra lisan pada dasarnya spontan. Cerita secara turun temurun ini disampaikan lewat hafalan dan ingatan. Oleh karena itu, seluruh cerita Timun Mas diciptakan dan didasari oleh cerita yang telah mereka miliki yang mengalami proses transmisi secara alamiah.

Cerita Timun Mas yang saya dapat berdasarkan dari ingatan cerita Timun Mas sewaktu kecil adalah cerita ini diawali dengan sepasang suami istri yang sangat mengharapkan memiliki anak. Kemudian memohon kepada Buto Ijo untuk diberi anak dengan syarat, ketika Timun Mas sudah menjadi gadis akan diminta oleh Buto Ijo untuk dimakan. Buto ijo memberikan mentimun kepada ibu. Ketika di buka di rumah, di dalam ketimun ada seorang bayi perempuan yang lucu.

Pertengahan cerita, Timun Mas menjadi seorang gadis yang cantik dan sehat. Ibu gelisah, karena harus memberikan anaknya kepada Buto Ijo. Si ibu meminta pertolongan kepada kakek pertapa. Ibu mendapatkan tiga kantong. Kantong pertama berisi biji, kantong kedua berisi garam, dan kantong ketiga berisi terasi. Kantong-kantong itu untuk melawan Buto Ijo.

Buto ijo menagih janjinya kepada Ibu Timun Mas, tapi Ibu dan Timun Mas tidak mau. Akhirnya Timun Mas dikejar-kejar Buto Ijo untuk dimakan, kemudian Timun Mas melemparkan kantong yang berisi biji-bijian, kemudian dari biji-bijian itu tumbuh pohon yang merambat dan berduri, menghalangi jalan Buto ijo. Dari kantong kedua yang berisi garam yang dilemparkan oleh Timun Mas, keluarlah air laut yang menenggelamkan Buto ijo. Buto ijo sudah kepayahan. Yang terakhir, Timun Mas melemparkan kantong yang berisi terasi, lalu dari terasi-terasi itu keluar lumpur yang menenggelamkan Buto Ijo. Timun Mas selamat. Ibu dan Timun Mas bersyukur kepada Tuhan yang telah membantu Timun Mas menghadapi Buto Ijo.

Kini, cerita rakyat Timun Mas sudah mengalami proses transformasi dari sastra lisan ke dalam bentuk tulisan, drama, dan film kartun. Kita akan membandingkan bentuk, isi, fungsi, dan konteks cerita Timun Mas versi satu (Timun Mas versi lisan)— kita sebut saja teks hipogramnya, Timun Mas versi dua yang didapat dari blog Uun Halimah, Timun Mas versi tiga dari catatan Triwidodo Djokorahardjo, dan Timun Mas versi film kartun ”Timun Mas dan Raksasa”.

Dalam hal bentuk, Teks hipogram Timun Mas versi satu berupa sastra lisan, Timun Mas versi Uun Halimah dan Triwidodo Djokorahardjo berupa sastra tulis, sedangkan Timun Mas dan Raksasa sudah dalam bentuk film kartun.

Cerita Timun Mas yang hipogram dengan cerita Timun Mas transformasinya walaupun berlainan masanya, ternyata masih banyak unsur kesamaannya yaitu pada segi isi. Perbedaan antara teks hipogram dengan isi yang ada di dalam film kartun “Timun Mas dan Raksasa” adalah dalam cerita timun mas awal cerita tidak didahului dengan perjanjian antara raksasa dengan kedua orang tua Timun Mas. Disini diceritakan Timun Mas sudah dewasa dan berteman dengan kucing dan monyet yang selalu menemaninya bermain.

Di dalam teks hipogram, Timun Mas diceritakan memiliki ayah dan ibu yang sudah tua dan bekerja sebagai petani. Dalam film kartun “Timun Mas dan Raksasa” hanya memiliki seorang ibu dan empat adik angkat, yaitu kucing, monyet, tikus rumah, dan tikus tanah yang dapat berdiri, berbicara layaknya manusia.

Di dalam teks hipogram, tokoh-tokohnya hanya bapak, ibu, timun mas, dan buto ijo. Tapi dalam film kartun “Timun Mas dan Raksasa” ada tokoh tambahan yaitu pangeran, pengawal, kakek pertapa, ayam, penduduk desa, monyet, kucing, tikus, dan tikus tanah. Para tokoh tambahan ini adalah yang membantu Timun Mas kabur dari Buto Ijo.

Dalam film kartun “Timun Mas dan Raksasa”, setelah tenggelam oleh lumpur, raksasa tidak mati, hanya menjadi mempunyai penyakit kulit, dan raksasa sempat berteman dengan Timun Mas. Namun dalam teks hipogramnya Timun Mas dan Raksasa Buto Ijo tidak berteman.

Dalam cerita Timun Mas yang ditulis dalam blog Uun Halimah, Timun Mas bernama Ni Timun Mas sedangkan raksasanya bernama I Lantang Hidung. Ada pula yang menamakan Ibu Timun Mas sebagai Mbok Sirni.

Cerita rakyat Timun Mas memiliki beberapa fungsi, dalam kehidupan sehari-hari cerita ini biasanya dijadikan bahan pembelajaran bagi anak-anak, inspirasi dalam pembuatan film, dan sebagai cerita pengantar tidur dari orang tua ke anaknya atau dari kakek nenek ke cucunya. Begitu pula dengan cerita Timun Mas yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk audio-visual dan tulisan, fungsi yang utama adalah sebagi tontonan hiburan bagi anak-anak maupun masyarakat, karena Timun Mas berisi nasehat-nasehat agar kita selalu mensyukuri apa yang diberikan Tuhan, tidak meminta kepada jin ataupun raksasa seperti Buto ijo. Sekalipun dalam dunia nyata, Buto Ijo tidak ada, namun tetap ada kaitan antara tokoh-tokoh dan perbuatan mereka yang dapat dimengerti oleh penikmat cerita Timun Mas. Selain itu cerita Timun Mas mengajarkan kita bersikap pantang menyerah, contohnya Timun Mas ketika dikejar-kejar Buto Ijo, walaupun kantong pertama gagal, Timun Mas terus melemparkan kantong kedua, ketiga, hingga kantong keempat.

Bila dilihat dari segi konteks penyampaian cerita rakyat Timun Mas dari generasi ke generasi berikutnya, awalnya dilakukan secara turun temurun melalui bahasa lisan. Kemudian setelah masyarakat mengenal tulisan barulah penyampaian itu dilakukan secara tertulis dengan menggunakan media buku, sehingga kini kita tak sulit lagi menemukan cerita Timun Mas dalam buku kumpulan cerita rakyat. Semakin berkembangnya teknologi, konteks penyampaiannya berkembang menjadi sebuah film, dan film kartun.

Ternyata, cerita Timun Mas yang hipogram dengan cerita Timun Mas transformasinya walaupun berlainan masanya, ternyata masih banyak unsur kesamaannya yaitu pada segi isi dan fungsi. Dengan ini, terbukti cerita Timun Mas yang tercipta dahulu kala tidak termakan oleh zaman, masih ada hingga sekarang, bahkan semakin berkembang dari yang awalnya hanya sastra lisan menjadi sastra tulis, film, drama, maupun film kartun. Semoga cerita rakyat nusantara yang lain seperti Malin Kundang, Bawah Merah Bawang Putih, Sangkuriang, Ande-ande Lumut, Lutung Kasarung dan cerita rakyat nusantara lainnya pun dapat terus bertahan dari kepungan cerita-cerita anak dunia, seperti Cinderella, Snow White, Phinichio, dan lain-lain.

Penerapan Semantik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX

oleh Fitri Nuur Alimah

Buku yang dianalisis adalah Pelajaran Bahasa Indonesia Untuk SMP/MTs Kelas IX karangan Tri Retno Murniasih,S.Pd. dan Drs. Sunardi, M. Pd. Pembahasan semantik dalam buku ajar ini sebagai berikut.

1. Bab 2

Pembahasan semantik dalam bab 2 adalah Memahami dan Menggunakan Imbuhan –man, –wan, –wati. Akhiran –man, -wan dan –wati menunjukkan jenis kelamin. Akhiran –man dan –wan menyatakan jenis kelamin laki-laki, sedangkan –wati menyatakan perempuan. Akhiran tersebut berfungsi membentuk kata benda.

Arti imbuhan –man-, -wan dan –wati sebagai berikut.

1. Menyatakan orang yang ahli.

Contoh: Sumpah jabatan PNS dihadiri para agamawan.

2. Menyatakan orang yang mata pencahariannya di bidang tertentu.

Contoh: Peristiwa itu diliput para wartawan dari berbagai media cetak.

3. Menyatakan orang yang memiliki sifat tertentu.

Contoh: Setelah pergi haji, ia menjadi dermawan.

4. Menyatakan jenis kelamin.

Contoh: Para seniman dan seniwati meramaikan acara hari jadi kota Solo.

Dalam semantik, makna konfiks termasuk makna gramatikal yang lahir karena adanya proses gramatikal. Menurut Chaer (2002:62), makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi.

2. Bab 3

Pembahasan semantik dalam bab 3 adalah Memahami Singkatan dalam Iklan Baris. Hampir semua kata dalam iklan baris menggunakan singkatan. Singkatan-singkatan seperti itu jarang dipakai dalam tulis-menulis dalam situasi formal, tetapi lazim digunakan dalam beriklan. Antara pemasang iklan dengan pembaca sebagai pelanggan iklan sudah terjalin komunikasi yang baik, sehingga maksud dan tujuannnya kedua dapat tercapai. Contoh:

1. Ors = Orisinil

2. a.n. sdr = atas nama saudara

3. Hrg = harga

4. hub = hubungi

Dalam semantik, kata-kata yang terbentuk sebagai hasil penyingkatan ini lazim disebut akronim. Menurut Chaer (2002: 51), dalam perkembangan bahasa terakhir ini banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang terbentuk sebagai hasil penggabungan unsur-unsur huruf awal atau suku kata dari beberapa kata yang digabungkan menjadi satu.

3. Bab 4

Pembahasan semantik dalam bab 4 adalah Menggunakan kata yang Mengalami Pergeseran Makna.

a. Pergeseran Makna Meluas dan Menyempit

Makna kata banyak yang berubah dari makna aslinya, baik meluas, menyempit, membaik, memburuk ataupun sama sekali berubah. Hal ini terjadi karena pada perkembangannya bahasa mengalami pertumbuhan sesuai dengan situasi dan situasi zamannya.

1) Perluasan Makna

Perluasan makna kata adalah suatu kata yang maknaya menjadi lebih luas daripada makna semula. Contoh:

a) Ia tinggal di rumah saudaranya.

Saudara makna kata dulu : adik/kakak

b) Ada keperluan apa Saudara mencari saya?

Saudara makna sekarang : engkau (orang yang dihormati)

2) Penyempitan Makna

Penyempitan makna kata adalah makna suatu kata menjadi lebih sempit daripada makna semula. Contoh:

a) Amelia berasal dari keluarga pendeta.

pendeta makna kata dulu : ahli agama

b) Menantunya seorang pendeta taat.

kata pendeta bermakna orang yang ahli ilmu agama Nasrani

b. Memahamai dan Menggunakan Makna Kata Peyorasi, Ameliorasi, dan Sinestesia

1) Peyorasi

Peyorasi adalah makna yang sekarang dirasa lebih rendah, kurang baik, kurang hormat daripada makna dahulu. Contoh kalimat peyorasi:

a) Bini bang Juri hamil enam bula. (bini lebih rendah nilainya daripada istri)

b) Kambingnya beranak enam ekor. (beranak lebih rendah nilainya daripada melahirkan)

2) Ameliorasi

Kalimat yang menggunakan kata ameliorasi yaitu makna yang sekarang dirasa lebih tinggi nilainya daripada makna dahulu. Contoh kalimat ameliorasi:

a) Pramuniaga toko ini rata-rata usianya masih belia. (pramuniaga lebih tinggi daripada pelayan toko)

b) Istrinya serang pengusaha wanita terkemuka di kota ini. (wanita lebih tinggi nilainya daripada perempuan)

3) Sinestesia

Kalimat yang menggunakan kata sinestesia yaitu perubahan makna yang terjadi karena pertukaran anggapan dua indera. Contoh kalimat Sinestesia:

a) Senyumnya manis sekali. (indera perasa ke indera penglihatan).

b) Berita yang dibicarakan itu sebenarnya sudah basi. (indera perasa ke indera pendengar)

Dalam semantik,

4. Bab 5

Pembahasan semantik dalam bab 5 adalah Memahami dan Menggunakan Imbuhan ter-, ter-kan, ter-i.

a. Memahami dan menggunakan Awalan ter-

Arti awalan ter-

1) Kesebelasan Brazil sering menjadi tim sepak bola terkuat di dunia.

Arti imbuhan ter : menyatakan paling (paling kuat)

2) Mendengar berita yang mengejutkan itu aku terduduk.

Arti imbuhan ter : dengan tiba – tiba (duduk)

3) Rombongan kami masuk melalui pintu yang terbuka.

Arti imbuhan ter : dalam keadaan

4) Buku Ana terbawa oleh Sari.

Arti imbuhan ter : menyatakan perbuatan yang tidak disengaja

5) Terdakwa perampokan itu telah ditangkap polisi.

Arti imbuhan ter : menyatakan orang yang di ….

6) Tulisannya bagus dan rapi, sehingga terbaca dengan jelas.

Arti imbuhan ter : dapat di ……….(dibaca)

b. Memahami dan Menggunakan Imbuhan ter-kan

Arti awalan imbuhan ter-kan

1) Acara yang bagus itu terlewatkan begitu saja.

Arti imbuhan ter-kan pada kata terlewatkan adalah tidak sengaja/tidak terasa dilewatkan.

2) Kebaikan-kebaikannya tak terlupakan sepanjang masa.

Arti imbuhan ter-kan pada kata terlupakan adalah tak dapat dilupakan.

3) Kesedihan hatinya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Arti imbuhan ter-kan pada kata terlukiskan adalah tak dapat dilukiskan.

c. Memahami dan menggunakan imbuhan ter-i

Arti awalan imbuhan ter-i

1) Mereka tidak merasa terbebani oleh tugas ini.

Arti imbuhan ter-i pada kata terbebani adalah mendapat beban.

2) Target itu telah terlampaui pada bulan kemarin.

Arti imbuhan ter-i pada kata terlampaui adalah dapat dilampaui

3) Pikiran anak-anak mulai teracuni tayangan-tayangan televisi yang kurang mendidik.

Arti imbuhan ter-i pada kata teracuni adalah dimasuki/dipengaruhi.

d. Menggunakan Imbuhan –is dan –isme

Arti awalan imbuhan –is dan -isme

1) Para pendiri negara adalah nasionalis sejati. (orang yang memiliki sifat nasional)

2) Semangat nasionalisme harus selalu dipupuk. (paham, pandangan, atau aliran)

3) Pianis cilik itu memperlihatkan kebolehannya di depan publik. (ahli bermain piano)

Dalam semantik, makna konfiks termasuk makna gramatikal yang lahir karena adanya proses gramatikal. Menurut Chaer (2002:62), makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi.

5. Bab 8

Pembahasan semantik dalam bab 8 adalah Memahami dan Menggunakan Homonim dan Hiponim.

a. Homonim

Homonim adalah kata yang lafal dan ejaannya sama, tetapi maknanya berbeda karena asal katanya berbeda. Contoh:

1) Adik sudah bisa berjalan.

2) Bisa ular kobra sangat mematikan.

Kata bisa dalam kedua kalimat di atas ejaan dan pelafalannya sama, tetapi arti keduanya berbeda. Kata bisa dalam kalimat pertama berarti mampu atau dapat, sedangkan pada kalimat kedua berarti racun.

Homonim ada dua jenis yaitu:

1) Homofon adalah kata yang lafalnya sama, tetapi memiliki ejaan dan arti yang berbeda. Contoh:

· Sekarang ini kita masih berada pada masa krisis ekonomi. (waktu)

· Pencopet itu luka parah karena dihajar massa yang marah.

(sekumpulan orang)

2) Homograf adalah kata yang ejaannya sama, tetapi memiliki lafal dan arti yang berbeda. Contoh:

· Peternak sapi di Boyolali itu memerah susu sapi. (memeras)

· Pipi pramuniaga itu memerah karena malu. (menjadi berwarna merah)

b. Hiponim

Hiponim adalah kata yang tingkatannya berada di bawah kata yang lain.

Contoh: katak, kera, buaya, dan ayam merupakan hiponim dari hewan.

· Beberapa orang berburu katak pada malam hari.

· Pengelola kebun binatang memberi makan beberapa kera.

· Pawang itu berhasil menangkap buaya di sungai dekat rumahku.

· Beberapa pedagang menaikkan harga ayam.

· Para pecinta alam berhasil menyelamatkan hewan yang termasuk langka di hutan ini.

Menurut Chaer (2002: 93), secara harfiah homonim dapat diartikan sebagai ”nama sama untuk benda atau hal lain”. Secara semantik, Menurut Chaer (2002:62), Menurut Chaer (2002:62), Verhaar (1978) memberi definisi homonim sebagai ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain (berupa kata, frase, atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama.

Menurut Chaer (2002: 98), secara harfiah Hiponim berarti ”nama yang termasuk di bawah nama lain”. Secara semantik Verhaar (1978: 137) menyatakan hiponim ialah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat juga frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain.

Apresiasi Puisi

Secara etimologis, apresiasi berasal dari bahasa Inggris “appreciaton” kata itu berarti penghargaan, penilaian, pengertian, bentuk itu berasal dari kata kerja “to appreciate” yang berarti menghargai, menilai, mengerti. Apresiasi puisi terkait dengan sejumlah aktivitas yang berhubungan dengan puisi. Apresiasi merupakan pengalaman lahiriah dan batiniah yang kompleks.

Apresiasi puisi berkaitan dengan kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan puisi, yaitu mendengar atau membaca puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh, menulis puisi, dan mendeklamasikan. Kegiatan ini menyebabkan seseorang memahami puisi secara mendalam, merasakan apa yang ditulis penyair, mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung didalam puisi, dan menghargai puisi sebagai karya sastra seni keindahan dan kelemahan.

Waluyo (2002:45) membagi tingkatan apresiasi meliputi, (1) tingkat menggemari, (2) tingkat menikmati, (3) tingkat mereaksi, dan (4) tingkat produktif.