Kamis, 16 September 2010

Pentas Drama Rangga Wulung

Siluman Menyaru Permaisuri


oleh : Fitri Nuur Alimah


Tanggal 13 November hingga 15 November 2007 kemarin, di Panggung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat dipentaskan drama yang berjudul Rangga Wulung yang diproduksi Teater Gracias Bandung (TGB). TGB merupakan sebuah wadah bagi para pecinta seni dan budaya untuk menyalurkan kreatifitas dan kejenialan para anggotanya.

Sekitar pukul 4 sore pertunjukan dimulai, dibuka oleh band anak muda yang tampak bersemangat sekali, walaupun langit sedang mendung ketika itu. Tak lama kemudian tirai panggung di buka, di ceritakanlah prolog oleh gadis kecil yang suaranya dibuat serak. Gadis kecil itu membuat suasana hati penonton menjadi ceria, tak jarang dia melakukan hal-hal yang aneh dan lucu, membuat penonton tertawa terbahak-terbahak melihatnya.

Drama Rangga Wulung ini bercerita tentang seorang nyai siluman yang bernama Nyai Gandayang Sari. Nyai ini sangat mencintai Raja Buldansah, karena Raja Buldansah begitu tampan. Sayangnya Raja Buldansah telah memiliki istriyang sedang mengandung. Tanpa sepengetahuan orang lain, Nyai Gandyang menyaru dirinya menjadi seperti istri raja. Permaisuri yang asli di buang ke hutan tanpa nama. Di hutan itu permaisuri yang asli melahirkan dan membesarkan anaknya yaitu Rangga Wulung. Rangga Wulung menjadi pemuda yang gagah dan tampan. Puncaknya, permaisuri yang asli kembali ke istana, kerajaan Buldansah gempar. Terkuaklah rahasia bahwa permaisuri yang ada di istana adalah siluman yang menyaru.

Dalam hal tata panggung, gerak, artistik, kostum, dan musik teloah mendukung drama Rangga Wulung ini menjadi hidup. Penggunaan bahasa sunda pada beberapa adegan membuat penonton yang tidak mengerti bahasa sunda hanya dapat bengong. Juga ada beberapa pemain yang mengucapkan dialognya masih terlihat kaku, sehingga terkesan menghafal. Hal ini dapat dimaklumi, karena para pemainnya masih duduk di bangku sekolah. Gracias !