Kamis, 16 September 2010

Pentas Musikalisasi Puisi Ikebana

Di Balik Bayang-bayang Cinta Sejati


oleh : Fitri Nuur Alimah


Banyak anak muda yang menganggap musikalisasi puisi itu membosankan dan tidak menarik. Bahkan hanya cocok dinikmati mahasiswa sastra. Anggapan seperti ini akan hilang setelah menonton musikalisasi puisi Ikebana oleh Ari Kpin di gedung PKM UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung pada tanggal 21 November 2007 lalu.

Malam itu gedung PKM UPI tampak semarak dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di komplek UPI. Sekitar pukul 7 acara dimulai, para penonton mulai bersemangat ingin segera menyaksikan musikalisasi puisi Ikebana. Alunan musik memenuhi setiap sudut ruang Auditorium.

Dibuka oleh band dari mahasiswa UPI yaitu T’Sand yang tak diragukan lagi kehebatannya, karena pernah menyabet juara 1 pada Lomba Musikalisasi Puisi se-Kabupaten Garut. Puisi yang dimusikalisasikan adalah puisi Jembatan Mirabeau karya Guillaume Apollinaire, salah satu karya abadi dari negeri Perancis. Nama Mirabeau sebenarnya diambil dari nama seorang Raja Perancis , mereka menggunakan nama itu untuk mengenangnya. Jembatan Mirabeau tetap menjadi salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi jika berwisata ke Perancis karena Jembatan Mirabeau merupakan jembatan yang luar biasa panjangnya, jembatan ini membelah kota Paris menjadi dua bagian. Terdapat sebuah kisah klasik dari jembatan Mirabeau ini, diceritakan ada dua keluarga yang saling bermusuhan, tetapi anak dari dua keluarga ini saling mencintai. Karena kuatnya rasa permusuhan antara kedua keluarga itu, kedua keluarga itu melarang hubungan anak mereka untuk saling memadu kasih. Karena kedua remaja itu merasa kecewa atas putusan yang dibuat keluarga mereka, timbullah gagasan konyol untuk bunuh diri bersama. Si laki-laki membunuh dirinya sendiri di Jembatan Mirabeau, kemudian disusul oleh pacarnya, tetapi saat pacar wanitanya itu hendak membunuh dirinya sendiri, aksinya segera ketahuan dan berhasil dicegah. Setelah kepergian kekasihnya, perempuan iti setiap hari dirundung rindu dan duka.

Meski malam datang, jam berdentang

Hari-hari pergi, aku tinggal diam

Cinta pergi bagai air ngalir ini. Cinta pergi

Betapa hidup lamban

Dan alangkah kejamnya harapan

Kata-kata pada puisi ini begitu mengena ke hati. Membuat yang menontonnya ikut terhanyut dalam duka kekasih yang ditinggalkan.

Setelah musikalisasi puisi Jembatan Mirabeau karya Guillaume Apollinaire dan Aku Ingin Melukismu karya Nenden Lilis A. Gedung PKM UPI kembali tenang. Beberapa menit kemudian, dari arah belakang terdengar suara pria yang menyanyikan sebuah lagu, dan ternyata itu adalah Ari Kpin. Salah satu puisi yang dimusikalisasikan adalah Ikebana karangan Cecep Syamsul Harry. Puisi Ikebana bercerita tentang seorang wania yang sedang jatuh cinta. Dia tak sabar menanti datangnya kekasihnya yang berjanji dalam surat akan datang besok. Rasa rindu telah menyelimuti dirinya.

Esok begitu pilu, janji itu. Sebab mungkin berarti sebuah senja,

di tahun berikutnya,

Terkadang Ari Kpin mengajak penonton untuk bernyanyi dan bertepuk tangan mengikuti irama lagu. Untuk mengajak semua penonton bertepuk tangan, mereka hanya memerlukan dua kali ajakan. Para penonton telah larut dalam musikalisasi yang dibawakan Ari Kpin.

Sayangnya suara vokalis yang bagus tidak didukung dengan sound system yang bagus pula, jadi terkadang suara vokalis terdengar samar-samar. Selain itu setting panggung terlihat kurang di perhatikan. Dari keseluruhan acara, tidak terdapat properti maupun drama yang mendukung puisi yang sedang dimusikalisasikan.

Rasanya, jika pementasan ini didukung dengan sound system yang bagus dan setting panggung yang mendukung. Pementasan ini akan lebih hidup dan menjadi kenangan yang tak terlupakan.